Article : Drama Sendratari binaan The Lodge Foundation


12 Februari 2018

BANDUNG, Indonesia — Bibir Rendi Agung Permana seakan tak bisa berhenti tersenyum melengkapi matanya yang berbinar. Wajahnya basah oleh keringat melunturkan kosmetik yang tersisa. Seluruh ekspresi di tubuhnya meneriakkan kegembiraan dan rasa puas. Penuh bangga, remaja pria 15 tahun itu melontarkan perasaannya.

“Saya merasa senang, gembira, bangga. Mungkin ini langkah pertama kita mencapai kesuksesan,” ujar Rendi penuh percaya diri. Rendi baru saja mementaskan sebuah sendratari berjudul Sangkuryang. Ini pengalaman baru dan pertama kalinya bagi siswa SMK 4 Lembang ini. Sebelumnya, dunia seni pertunjukan ini asing bagi Rendy. Pun, bagi 30 orang pemain lainnya yang merupakan warga Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Pertunjukan drama tari Sangkuryang arahan sutradara Kiki Permana ini memang tidak melibatkan para pemain profesional, tapi warga setempat yang memang belum pernah sekalipun bermain peran. Inilah yang menjadi keunikan pertunjukan yang pertama kalinya dipentaskan di The Lodge Maribaya, sebuah tempat wisata di kawasan Cibodas Lembang, pertengahan Agustus 2017 lalu.

Meski dipentaskan oleh pemain amatir yang sebagian besar adalah anak-anak, namun pertunjukan legenda tatar parahyangan ini patut diacungi dua jempol. Para aktor bermain total bak seniman teater dengan jam terbang panjang.

Mereka menari dan berakting hingga berhasil menyuguhkan tontonan yang menarik. Apalagi, lokasi pementasannya konon merupakan tempat di mana Dayang Sumbi dikejar-kejar Sangkuryang. Penonton dibuat terpukau dan baru tersadar 30 menit kemudian ketika pertunjukan usai. Kerja keras seluruh kru selama 3 bulan berlatih terbayar sudah.

Sosok kunci di belakang pementasan sendratari tersebut adalah Heni Nurhaeni Smith. Perempuan asal Garut ini berniat memberdayakan warga sekitar lokasi The Lodge Maribaya, tempat wisata miliknya. Aksi itu ia lakukan melalui The Lodge Foundation, sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan kepada warga Cibodas.

“Karena pengunjung kita mulai banyak, rezekinya juga banyak, saya ingin berbagi dengan masyarakat sekitar. Jadi saya bentuk The Lodge Foundation. Untuk setiap satu tiket masuk The Lodge Maribaya, saya ambil 1.000 rupiah,” tutur Heni saat ditemui di lokasi perrtunjukan.

Dana yang terkumpul, ungkap Heni, akan dipergunakan untuk membiayai tiga program utama The Lodge Foundation, yakni pendidikan, lingkungan hidup, dan seni budaya. Sendratari Sangkuryang merupakan realisasi dari program seni budaya.
Ada alasan tertentu mengapa Heni menjadikan seni budaya sebagai satu dari tiga program utamanya. Heni yang lama menetap di Inggris ini mengaku prihatin dengan semakin surutnya pertunjukan yang mengangkat seni tradisi Sunda.
“Aku pulang ke Indonesia 2015. Di Bandung di mana ya nonton kesenian Sunda? Di Jawa Barat di mana ya nonton sendratari Sangkuryang? Enggak ada yang mempertunjukkan kesenian Sunda, kecuali di kawinan atau event-event tertentu,” ujar isteri dari pria asal Inggris ini.

Kondisi itulah yang membuat Heni terdorong untuk menggelar pertunjukan sendratari yang mengangkat legenda-legenda tanah Parahyangan. Bekerja sama dengan Nuwala Performance, garapan seni tradisi Sunda itu akan dipentaskan secara rutin, sebulan dua kali di The Lodge Maribaya.

“Ada beberapa tujuan sebetulnya. Satu, agar The Lodge ada kontennya. Kedua, memang anak-anak ini harus dibina, dan ketiga, culture kita enggak boleh hilang. [Pementasan seni tradisi] sudah hampir enggak ada di Bandung, enggak ada yang matuh [rutin], kecuali Saung Angklung Udjo. Tapi kan itu angklung, kalau sendratari, di mana?” kata Heni.
Anak-anak memang menjadi sasaran program The Lodge Foundation. Ini juga bukan tanpa alasan. Heni mengungkapkan, anak-anak di Kawasan Cibodas selama ini kurang terperhatikan. Mereka dibayangi ancaman putus sekolah dan pernikahan dini. Padahal, menurut perempuan 48 tahun itu, anak-anak Cibodas memiliki potensi yang belum tergali.
“Dengan mereka tampil, ditonton orang, mereka akan confidence, kepercayaan diri tinggi, bisa jadi suatu saat mereka jadileader,” kata Heni berharap.

Harapan itu pula yang ada di benak Ujang Hermawan. Siswa kelas 11 di SMA Negeri 1 Lembang ini memiliki cita-cita berkarir di dunia seni pertunjukan. Peluang yang diberikan The Lodge Foundation memotivasi Ujang untuk ikut melestarikan budaya Sunda.
“Kami suka seni. Jadi kalau dikasih kesempatan seperti ini, kami senang. Mungkin ini bisa jadi awal karir kami. Insya Allah akan meneruskan berkarya di dunia seni khususnya seni Sunda,” tutur remaja 16 tahun ini.
Yani Sulastri tak kalah senangnya. Ibu dari pemeran Dayang Sumbi, Risma Sri Anjani ini seakan mendapat jalan untuk mewujudkan cita-cita anaknya menjadi seorang penari professional.

Warga asli Cibodas ini tak memungkiri kekuatiran yang dirasakannya atas apa yang terjadi pada anak-anak perempuan di kampungnya. Menurut Yani, banyak anak perempuan di Cibodas yang putus sekolah karena dianggap tidak perlu sekolah tinggi atau kekurangan biaya. Setelah itu, biasanya si gadis akan dinikahkan dini atau terpaksa menikah lantaran keburu berbadan dua.
Ibu dua putri ini tak mau anaknya mengalami hal serupa. Melalui program yang diluncurkan The Lodge Foundation, Yani berharap anak-anak perempuan di Cibodas, termasuk anaknya, bisa mengembangkan wawasan dan bakat yang ada dalam diri mereka.
“Dengan adanya kegiatan ini, bisa menambah wawasan buat anak. Mereka juga bisa mengembangkan bakatnya. Jadi mereka ada kegiatan yang positif, tidak terbawa pergaulan yang enggak baik. Saya enggak mau anak saya nikah dini,” tutur Yani.
Tapi bagi Heni, apa yang telah dilakukannya masih jauh dari cukup. Heni menginginkan program seperti pemberdayaan masyarakat ini bergulir dan semakin membesar seperti bola salju.

“Mudah-mudahan jadi fenomena bagus dan jadi percontohan,” kata Heni yang telah memperkerjakan sebanyak 250 orang pekerja lokal ini.



Drama Sendratari binaan The Lodge Foundation
ARTICLE CATEGORIES
EducationSeni Budaya